A Plague Tale: Requiem

Tentang A Plague Tale: Requiem


Saat memainkan A Plague Tale: Innocence beberapa tahun lalu, para gamer cukup terkesan dengan plot  dan gaya visual yang dihadirkan Asobo Studio sebagai developer. Pasalnya, game ini menyuguhkan cerita yang menarik. Kisah ini terkait dengan petualangan yang solid melawan momok Black Death di Eropa.



A Plague Tale: Requiem menampilkan kelanjutan dari kisah yang dialami Amicia de Rune dan Hugo de Rune. Mereka sempat menikmati kedamaian setelah wabah mewabah di A Plague Tale: Innocence. Tentu saja, semua orang merasakan kedamaian itu, meskipun pada akhirnya itu salah. 

Selalu fokus pada Amicia dan Hugo, menurut penulis game ini lebih cocok jika ingin mengikuti cerita dari seri pertama. Pemain dapat memahami plot baru yang disajikan oleh pengembang, tetapi tentu saja tidak sepenuhnya pasti. Ah ya, Amica juga telah menjadi seorang gadis dengan kemampuan yang jauh lebih baik dari gelar pertama. 

Sayangnya, ke mana pun mereka pergi, di situlah kutukan dimulai. Kerja keras yang  mereka lakukan untuk mencapai Selatan sejauh ini sepertinya tidak bisa menghentikan kisah tragis serupa dari masa lalu. Alih-alih mampu meredam kekuatan dan kutukan Hugo, wabah tersebut justru menyerang dan menjadi jebakan seperti dua sisi mata uang yang berlawanan. 

Ya, masih seperti sebelumnya, Hugo masih membawa dalam dirinya kekuatan besar yang disebut Prima Macula, kutukan dari nenek moyangnya diturunkan  ke sejumlah keturunan di bawahnya. Kutukan ini dan kekuatan untuk mengendalikan tikus menjadi sumber bencana semakin mereka digunakan. 

Tentu saja, orang akan berpikir bahwa Hugo akan mampu mengendalikan kekuatan ini. Ya, itu benar, sungguh. Hugo mampu mengendalikan Macula sampai batas tertentu. Ketika Hugo menggunakannya secara teratur, ia melemah dan dapat mempengaruhi lautan tikus yang tak terkendali. 

Nah, perjalanan Amicia dan adiknya tentu saja  untuk menemukan obat kutukan Prima Macula. Tidak mudah dan perjuangan mereka tentu semakin berat di sini. Untungnya, mereka tidak lagi selemah yang muncul di A Plague Tale: Innocence. Di sini, mereka menjelma menjadi karakter dewasa yang tidak mudah menyerah. 

Secara umum plot dan plot yang dihadirkan oleh Asobo Studio lebih solid dan matang dibandingkan dengan seri pertama. Namun, dalam A Plague Tale: Requiem, lebih banyak lagi bagian  cerita yang diterima melalui dialog yang tersedia. Selain kedewasaan dan soliditas, plot yang dikembangkan juga terkesan lebih keruh. 

Pengkhianatan, kematian, dan perpisahan adalah serangkaian elemen klasik yang di sini sebenarnya tampak lebih akut. Semakin kuat Amcia dan Hugo, semakin berat cobaan yang harus mereka tanggung. Di mata penulis, Asobo Studio telah berhasil menciptakan cerita yang lebih padat, lebih dewasa, padat dan berbobot.



Komentar

Postingan Populer